Senin, 29 Desember 2008

Sudah Nonton film The Da Vinci Code?

Tidak lama lagi, Trans TV akan menayangkan film yang memikat perhatian jutaan orang-orang beriman, sebagai hadiah tahun baru. Tidak ada istilah terlambat untuk menonton film itu. Kapan pun ada waktu, yakinlah bahwa saat itu, nalar seorang penonton tengah dibawa ke dalam arus pikiran para sejarawan, yang bermaksud menawarkan sebuah teori, yang sulit untuk ditolak oleh arus pikiran yang sudah diperkaya dengan pengetahuan sejarah, agama, bahasa, dan seni.
Kebenaran yang ditawarkan oleh film The Da Vinci Code, sudah banyak diulas oleh penulis lain, sebelum filmnya menjadi sensasi kedua setelah teror nalar yang disebarkan oleh novelnya. Bagian paling menarik untuk diperhatikan dari film The Da Vinci Code, yang telah lulus sensor, ialah adegan ketika Robert Langdon dan Sophie sedang mengikuti penjelasan sejarawan pemburu cawan suci. Pada bagian yang sangat penting itu, yang boleh jadi merupakan bagian paling penting dari semua teori yang ditawarkan oleh Dan Brown tentang siapa Yesus sebenarnya, ternyata tidak diberi terjemahan bahasa Indonesia seperti bagian lain, sehingga banyak penjelasan yang tidak dapat diterima (dipahami) oleh penonton film yang tidak menguasai bahasa inggris.
Peniadaan terjemahan pada bagian yang sangat penting itu sepertinya sangat disengaja. Penerjemah filmnya bisa saja berkilah tidak menguasai materi tentang bagian yang tidak diterjemahkan itu, tetapi novelnya bisa dirujuk, dan tidak pernah ada waktu terbatas bagi maksud baik untuk memberikan pengetahuan, dan cara berpikir dengan sudut pandang lain. Ada banyak alasan lain yang bisa diproduksi seiring dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih kreatif. Yang jelas, tidak bisa dipungkiri bahwa ada kesengajaan dalam peniadaan terjemahannya.
Peniadaan terjemahan bahasa Indonesia pada bagian penting menjelang akhir kisah film The Da Vinci Code, menunjukkan ketidakpercayaan akan kedewasaan masyarakat Indonesia dalam menerima informasi, yang mungkin saja merupakan sebuah pengulangan dari tradisi gereja katolik lama, dalam usaha melawan kebenaran ilmu pengetahuan untuk mempertahankan kekuasaan gereja.
Bagi penonton yang benar-benar ingin menambah pengetahuan (mencari kebenaran), segera setelah menyaksikan filmnya, dan menemukan kejanggalan pada adegan menemukan lebih yang tidak diberi terjemahan lengkap, segera temukan novelnya, lalu temukan bagian-bagian yang hilang dari penjelasan para tokoh. Kiat ini juga, akan membuat para penonton menjadi lebih mengerti dengan cerita sesungguhnya yang ditulis oleh Dan Brown. Membaca dan menonton adalah dua aktivitas yang berbeda sehingga cara penikmatannya pun berbeda. Kita tidak bisa mengharapkan sebuah film akan sama persis dengan novelnya, hanya saja, sebuah film sudah selayaknya diharapkan sama dengan filmnya, dan hal itu baru bisa tercapai bila filmnya tidak diganggu oleh sensor yang berusaha melenyapkan bagian yang tidak bisa dilenyapkan.